Masih Mau Join Kelas di Mahir Digital? Baca Ini Dulu Sebelum Menyesal!


Baru saja saya menonton podcast-nya Pak Helmy Yahya. Di sana, beliau mengundang Fahmi Auditya, seorang Founder sekaligus mentor dari Mahir Digital. Platform edukasi yang fokus di dunia digital marketing ini memang sedang ramai dibicarakan di berbagai lini masa.

Namun, di kolom komentar podcast tersebut, mata saya tertuju pada satu opini yang cukup menohok:

"Kalo jualan itu mudah, karyawan-karyawan yang jadi mentor akan lebih memilih jualan, toh sebagai mentor, ilmu mereka pasti banyak. Plot twist-nya... bisnis yang menggiurkan adalah jualan kelas."

Jujur saja, di awal membacanya, saya SEPEMIKIRAN! Bahkan, saya merasa kita memang wajib punya pemikiran kritis seperti itu. Jangan gampang tergiur dengan embel-embel "kursus kilat" atau "belajar jadi kaya".

Namun, setelah saya melakukan riset mendalam, mengulik fakta di balik layar, hingga akhirnya memutuskan untuk bergabung sendiri, ada banyak hal yang ternyata tidak sesederhana komentar netizen tersebut.


Apakah Benar Mereka Cuma "Jualan Kelas"?

Saya pun sempat skeptis. Tapi setelah ditelusuri, ternyata Fahmi Auditya dan mentor-mentor lain di Mahir Digital adalah praktisi asli. Penghasilan utama mereka bukan berasal dari biaya pendaftaran kelas, melainkan dari bisnis real yang mereka jalankan.

Ada yang jualan herbal (penghasilan terbesarnya dari sini!), ada yang jual parfum, properti, sabun, bahkan sampai barang-barang perintilan rumah tangga. Mereka bukan sekadar orang yang pandai berteori di depan kamera, tapi mereka memang "berdarah-darah" di lapangan.

Foundernya sendiri mengakui, keuntungan dari jualan kelas itu sebenarnya sangat kecil jika dibandingkan dengan hasil jualan produk mereka sendiri. Sering kali, hasil dari kelas hanya cukup untuk menutup biaya operasional. Lalu, kenapa mereka masih repot membuat platform ini?


Berawal dari Niat "Menolong" yang Keluar Jalur

Ceritanya, dulu Fahmi sering membantu tetangga atau kenalannya berjualan. Dengan ilmu digital marketing yang ia punya, omzet tetangganya bisa naik 2 sampai 3 kali lipat. Berita ini menyebar, hingga banyak orang bertanya, "Gimana sih caranya main digital marketing?"

Karena lelah menjelaskan satu per satu, ia mulai mengunggah tutorial edukasi di YouTube secara gratis. Namun, ia menyadari satu masalah besar: YouTube itu kurang efektif.

Banyak orang yang menonton tutorial, tapi begitu praktek dan menemui kendala, mereka kebingungan. Tidak ada bimbingan, tidak ada arahan, dan akhirnya tersesat di antara ribuan video tutorial yang berserakan. Bagi kita yang muda mungkin bisa trial and error, tapi bagi orang tua atau pemula, langkah sekecil membuat Fanspage Facebook saja sudah jadi tantangan berat.

Mahir Digital akhirnya lahir bukan sebagai mesin pencetak uang bagi pemiliknya, melainkan sebagai wadah (dan legacy) agar orang-orang bisa belajar dengan kurikulum yang terstruktur dan terarah.


Apa Saja yang Didapat di Mahir Digital?

Jika Anda bertanya apa yang ditawarkan, platform ini menyediakan sekitar 13 kelas atau kurikulum digital marketing yang sangat komprehensif, di antaranya:

  • Pola Pikir (Mindset): Membangun fondasi mental pengusaha yang benar.
  • Meta Ads: Tutorial iklan Facebook & Instagram yang update.
  • Dropship & Marketplace: Strategi jualan tanpa pusing stok barang.
  • Sales Closing: Teknik jitu agar calon pembeli tidak cuma "nanya doang".
  • Tiktok Ads & Tiktok Affiliator: Memanfaatkan platform hype saat ini.
  • Pembuatan Konten: Skill wajib bagi pelaku bisnis digital.

Yang menjadi pembeda utama adalah pendampingan. Ada grup WhatsApp khusus tempat Anda bisa bertanya jika iklan Anda boncos (rugi) atau bingung menentukan langkah selanjutnya. Selain itu, hampir tiap bulan selalu ada sesi Zoom meeting (bisa sampai 4 kali sebulan!) untuk evaluasi langsung bersama mentor.


Kenapa Harus Berbayar?

Pertanyaan paling klasik: Kenapa gak gratis saja?

Jawabannya sederhana: Untuk keberlangsungan operasional dan filter.

Biaya pendaftaran berfungsi menyaring orang-orang yang memang serius ingin belajar. Kalau gratis, akan banyak "penonton iseng" yang tidak akan melakukan eksekusi. Kursus ini dirancang untuk mereka yang mau berkomitmen membangun bisnis.


Pengalaman Pribadi: Apakah Worth It?

Saya sendiri awalnya orang yang paling skeptis mendengar harga membernya yang mencapai 1 jutaan. Buset, buat beli susu anak bisa buat setahun! Tapi, saya mencoba berhitung lebih rasional.

Jika 1 jutaan itu untuk setahun, maka per bulan kita hanya mengeluarkan sekitar 90 ribuan. Lebih murah daripada jatah jajan bulanan anak saya yang bisa mencapai 200 ribuan.

Dulu, saya pernah ikut kelas Meta Ads di platform lain dengan harga 300-500 ribuan. Ilmunya bagus, tapi saat saya mentok di tengah jalan, saya tidak punya tempat bertanya. Akhirnya, saya berhenti di tengah jalan karena materi yang diajarkan sudah ketinggalan zaman dibanding update-an terbaru dari Facebook/Meta.

Di Mahir Digital, saya merasa memiliki "pemandu". Meskipun baru 3 bulan belajar dan belum benar-benar "pecah telor" (penghasilan fantastis), saya mulai memahami fundamental marketing dan cara menjalankan iklan dengan benar. Bahkan istri saya yang ikut kelas Tiktok Affiliator sudah mulai mendapatkan komisi rutin yang lumayan untuk menambah uang dapur.


Kesimpulan: Untuk Siapa Kursus Ini?

Kalau Anda mencari "cara cepat kaya tanpa kerja keras", saya sarankan jangan join.

Namun, kalau Anda adalah seseorang yang sedang mencari arah, ingin belajar digital marketing dengan kurikulum yang teruji, punya komunitas untuk bertanya saat menemui kendala, dan siap berproses, maka Mahir Digital sangat layak untuk dipertimbangkan.

Ingat, ilmu adalah investasi terbaik. Uang 90 ribuan per bulan mungkin hilang begitu saja jika dipakai untuk konsumsi, tapi jika dipakai untuk upgrade diri, nilainya bisa berlipat ganda di masa depan.


Tertarik untuk melihat platformnya secara langsung? Klik di sini untuk info lebih lanjut atau kalau sudah mantap, bisa langsung daftar di sini.


Disclaimer: Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan riset objektif. Keputusan untuk mengikuti kursus apa pun tetap ada di tangan Anda sebagai pembaca yang bijak.

Posting Komentar

0 Komentar